Bulan puasa, sebagian orang banyak yang menamainya bulan Ramadhan atau Romadhon. Memang dari kosa kata dan suku kata dari “negara asalnya” seperti itu. Bulan Ramadhan adalah bulan disaat umat muslim menjalankan ibadah puasa, sholat tarawih dan halal bihalal saling memaafkan, itu adalah upacaranya. Tetapi apakah kita semua sudah menghayati mengapa upacara bulan Ramadhan itu diadakan dan dibukukan dalam kitab suci ? ada banyak kekhusyukan yang kita laksanakan pada bulan ini termasuk yang tadinya masih bolong – bolong sholat 5 waktunya, kini menjadi 10 kali dalam sehari, ada yang biasanya makan 4 kali sehari kini jadi 2 kali sehari pada saat buka dan sahur karena malu dengan tetangga “masak sudah besar tidak puasa?”, ada yang entah mewakili golongan mana minta dihormati bulan puasanya dengan slogan – slogan di spanduk jalanan, ada juga yang entah karena untuk mencari kegiatan dari pada nganggur (padahal pengangguran betul) sambil menunggu buka puasa melakukan aksi pentung – pentungan dan merusak warung – warung makan disiang hari (orang bilang razia). Ya … dinegara ini yang sudah disepakati sebagai milik semua warga negara seharusnya adalah sebagai ujian yang lebih menantang karena kitab suci dihadapkan pada kompleksitas masyarakat yang mempunyai hak pakai tanah air yang sama tetapi berbeda – beda religiusnya, itu adalah ujian bagaimana kitab suci ini tetap mempunyai fungsi yang baik di tengah – tengah umat manusia.
Meninjau fenomena perilaku kelompok pada bulan ramadhan seharusnya yang menjadi dasar pemikiran adalah bukan masalah menghormati dan tidak menghormati bulan puasanya tetapi yang namanya ujian menahan haus, lapar dan nafsu adalah bagaimana kita menahan keinginan itu di tengah – tengah keadaan yang wajar, tidak di buat – buat sehingga harapannya adalah jika nanti setelah bulan puasa selesai maka sudah mampu bertindak seperti bulan puasa. Jika ada aturan tidak boleh begitu dan begini itu adalah level dimana manusia dihadapkan pada pengkondisian untuk melatih esensi yang ingin di capai yaitu menjadi manusia yang sesungguhnya menjadi benar – benar dirinya dengan mengetahui tujuan lahir, tujuan hidup, tujuan mati dan dimana ini akan ber-ujung dan dari mana ini akan berawal.
Alangkah nikmat dan indahnya jika kita melakukan ibadah sekaligus tahu alasannya komplit dengan asal – usul, manfaat dan tujuannya. Tapi bagaimanapun juga yang namanya perbuatan baik tetap baik, jika ibadah hanya sekedar upacara itu masih lebih baik dari pada tidak sama – sekali. Tulisan ini adalah pendapat dan bukan undang – undang, jadi jika menurut pembaca terdapat kesalahan silahkan membuat opini sendiri karena sebenarnya kebenaran adalah kesepakatan.
Selamat Menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalaninya.